Kamis, 26 Mei 2016

Traning of Trainer

Menjadi trainer adalah salah satu hal yang saya senangi. Delapan tahun lalu, saya pernah menjadi trainer di MI Al Mustofa Canggu Mojokerto. Dimana sekolahnya sangat minim dan terbelakang. Tapi Kepala Madrasahnya yaitu Pak Solikin adalah teman saya mengajar di MAN 1 Kota Mojokerto waktu itu minta saya membuat sistem untuk sekolahnya. Alhamdulillah setelah saya training guru dan karyawannya, tahun ajaran baru sekolah itu sudah diminati dan yang asalnya satu rombel aja carinya mati-matian, sekarang bulan Desember sudah penuh dua rombel.

Setelah saya jadi PNS menjadi trainer secara dinas kelihatannya sulit, karena seringkali yang dikirim adalah mereka yang 'dekat' dengan orang Dinas. Alhamdulillah dengan adanya UKG kebijakan itu berubah, karena nilai dari UKG adalah salah satu pertimbangan obyektif dalam memilih tenaga ahli. Saya yang asalnya tidak terpilih, karena nilai saya tertinggi UKG se Kab Mojokerto mapel Bahasa Inggris, akhirnya 'terpaksa' harus dipilih ikut ToT revisi K13 di Hotel Utami Sidoarjo. Oh ya, sekarang saya dinas di SMA Negeri 1 Dawarblandong Kab Mojokerto.






Selasa, 29 September 2009

Mulai kerja

Hari ini mulai kerja setelah libur idul fitri yang luaamaaaa.

Senin, 28 September 2009

Tiga Tipe Pekerja

Ada 3 macam sifat manusia bila dihubungkan dengan pekerjaannya. Yang pertama orang yang bekerja, mendapat penghasilan dan merasa kurang. Dia mencari pekerjaan lain yang gajinya lebih besar. Bila Anda termasuk tipe ini berarti Anda seseorang yang bersifat ambisius dan akan selalu merasa kurang. Tipe seperti ini biasanya cepat sukses.

Sifat yang kedua adalah orang yang bekerja, mendapat penghasilan merasa kurang tetapi sabar dengan pekerjaannya sambil menunggu gajinya naik. Orang seperti ini kebanyakan bukanlah orang ambisius. Jenis orang pertama jangan minta nasehat masalah karier dengan orang ini. Dia pasti bilang, "Tekuni saja pekerjaanmu, lambat laun kamu akan sukses."

Kedua tipe pekerja yang saya sebut sebelumnya adalah kebanyakan tipe manusia, bekerja untuk uang. Mereka adalah orang yang keluar mencari pekerjaan lebih besar gajinya, atau menunggu di PHK. Ketika bangun tidur, mereka bersemangat kerja untuk uang. Uang untuk memenuhi kebutuhan perut, dapur, prestis, pajak, atau melunasi hutang.

Tipe yang ketiga adalah orang yang bekerja untuk belajar. Dia bekerja sambil belajar bagaimana menjadi pegawai atau bawahan yang baik. Dia bekerja untuk mengamalkan ilmunya dan mendapat ilmu baru. Dia bekerja sambil mempelajari bagaimana atasannya bi...sa menggajinya. Dia bekerja untuk menolong dan membentuk jaringan atau rekanan.



Sabtu, 19 September 2009

Selamat Merayakan Idul Fitri 1430 H

Alhamdulillah, sekitar jam 19.00 (19/9) pemerintah menetapkan besok hari Ahad (20/9) adalah Idul Fitri 1430 H. Ini perlu disyukuri, karena sudah 29 hari kita berpuasa. Semoga Allah menerima semua amal baik kita. Berikutnya, ini adalah pertama kalinya sejak Indonesia merdeka pemerintah berani keluar dari pakem merayakan Idul Fitri sesuai tanggalan. Pemerintah menerima saksi yang telah melihat hilal dari Cakung dan Sukabumi. Allahu Akbar! Allahu Akbar! Walillahil Hamd! Semoga Allah memberikan kebaikan kepada pemerintah kita. Semoga Allah memberi hidayah kepada pemerintah kita. Semoga Allah memperbaiki pemerintah kita. Amin ya mujibassa'ilin.

Kamis, 17 September 2009

Anak yang Melindungi

Di dalam kelasnya Imam, siswa kelas 1 di sebuah SDIT d Kota Mojokerto, merupakan anak yang dibilang 'bandel'. Dia sering mendapatkan peringatan dan hukuman dari gurunya. Dia tipe anak yang sulit diam dan gampang bosan. Suatu ketika temannya membawa mainan ke sekolah. Karena ketahuan dan takut kena marah temannya itu memberikan mainannya ke Imam. Dengan santai dia menerima mainan tersebut dan 'siap' menerima konsekuensinya. Apa jadinya? Gurunya memarahinya lalu menghukumnya menghapus papan.

Di depan ibunya dia menceritakan hal itu dengan santai. Dengan santai dia memberikan alasan. "Kasihan, temanku takut dimarahi bu guru. Paling-paling saya disuruh menghapus papan. Saya setiap hari juga menghapus papan," katanya dengan tanpa rasa bersalah.

Hal mirip juga terjadi pada Diaz, siswa kelas 5 di SD swasta terkenal di Kota Mojokerto, dia dicap 'nakal' oleh gurunya. Bahkan mamanya sampai membawa ke dokter spesialis dan divonis 'autis'. Dan tidak tahu apa pertimbangannya, dia diharuskan minum resep dokter. Ketika mamanya mempertemukan saya dengan Diaz. Saya terkejut setelah berbicara dengannya.
"Ini bukan autis," klaim saya. Karena saya sering ketemu anak autis, dan memiliki 1 pasien yang autis tidak seperti Diaz. Diaz hanyalah anak dengan tipe psikomotorik yang tidak bisa dipahami oleh guru dan mamanya. Dia adalah anak yang keinginan dalam hatinya tidak dapat terungkapkan lewat verbal, hanya lewat fisik. Dia adalah anak yang senang game komputer. Saya nasehati mamanya untuk mengajari Diaz bukan dengan cara visual atau auditorial. Tapi secara psikomotor. Bahasa tubuhnya harus dipahami. Lebih perhatian kepadanya. Beberapa waktu setelah pertemuan itu saya menanyakan ke mamanya. Hasilnya, ada banyak perubahan pada Diaz.

Imam dan Diaz adalah contoh tipikal anak psikomotorik. Mengajar anak dengan tipikal seperti ini butuh pemahaman psikomotorik juga. Guru sebaiknya memberikan kegiatan game, senam, tebak-tebakan dan pendekatan yang menyenangkan lainnya. Yang lainnya, guru sebaiknya merubah cara menilainya. Arahkan perhatian dan fisiknya untuk menunjang belajarnya. Selamat berusaha.

Senin, 07 September 2009

Siswa yang Troublemaker

Di kelas yang kita ajar mesti ada satu atau beberapa siswa yang troublemaker. Siswa troublemaker itu bisa jadi ngomong sendiri ketika kita menjelaskan. Bisa juga bikin komentar yang gak nyambung dengan apa yang kita ajar. Bisa juga tidak mengumpulkan tugas atau mungkin sering bolos ketika jam pelajaran kita.

Siswa troublemaker ini sebenarnya tidak bisa diterjemahkan begitu saja menjadi siswa 'nakal'. Mereka seringkali dijadikan bahan omongan guru ketika di kantor. Mereka seringkali adalah siswa yang siap kita 'bidik' ketika mulai pelajaran. Padahal tidak seharusnya seperti itu. Memang mereka adalah siswa yang bisa kita jadikan omongan, akan tetapi omongan untuk menemukan masalah sebenarnya. Apakah siswa tersebut hanya bikin masalah di jam kita saja ataukah semua guru mengeluhkannya. Dari situ kita bisa jadikan dasar 'penelitian' berikutnya, yaitu mengapa dia sampai seperti itu? Seringkali pembicaraan sesama guru tidak menyentuh akar ini. Memang mereka adalah siswa yang siap kita 'bidik' untuk pelajaran kita, akan tetapi kita 'bidik' untuk kesuksesan mengajar kita. Bagi saya apabila kita bisa menyampaikan materi atau membuat siswa troublemaker mengikuti pelajaran kita, berarti siswa lainnya gak ada masalah berarti.

Ada seorang siswa yang saya cap siswa troublemaker di kelas XII IPS-1 di SMAN 1 Pacet Mojokerto tempat saya mengajar, namanya Catur. Dia seringkali berkomentar ketika saya mengajar. Dia juga alfa (skipping) 2 kali dalam pelajaran conversation saya. Ketika masuk kelas ini dia adalah salah satu "target" yang saya upayakan untuk saya jinakkan. Akan tetapi hari ini (7/9) ada prestasi dari dia. Tidak dinyana Catur dari tempat duduknya yang paling belakang angkat tangan sambil tanya, "Pak saya bisa maju?"
"Maju apa?" tanya saya agak heran kok ndungaren anak ini minta maju.
"Ya, maju presentasi benda yang dicintai."

Dalam kelas conversation saya memang tiap pertemuan ada 3 siswa yang maju bergantian menceritakan pakai bahasa Inggris selama 3-5 menit di depan kelas. Dan kebetulan Catur pas gilirannya mbolos/skipping. Saya ya cuek. Tapi melihat antusiasmenya untuk maju di bulan Ramadlan ini membuat hati saya luluh.

"Ya, boleh. Tapi setelah giliran Sulis, Tefi dan Thoriq. Oh ya, bagi yang termasuk saya coret karena gak mau maju di pertemuan ini saya mengadakan pemutihan. Mumpung bulan puasa. Tapi kalau tetap gak maju yang berarti resikonya nilai gak akan keluar."

Setelah ketiga temannya tampil, Catur dengan gaya yang lumayan 'meyakinkan' maju. Dan bagi saya dia berhasil untuk melangkah lebih baik. Dengan menunjukkan gelang karet berwarna hitamnya dia menceritakan dengan bahasa Inggris ala kadarnya. Saya sangat bersemangat mendampinginya sambil membantu apabila ada beberapa vocab yang di tidak bisa. Sedangkan dua siswa troublemaker lainnya tetap mempertahankan predikatnya.

Alhamdulillah, keberhasilan tak terduga saya peroleh hari ini.

Rabu, 02 September 2009

Dress Size

My wife took my 7-year-old daughter to buy her a 'rukuh' (a long dress for Islamic praying for women).
The shop assistant ask my wife, "What size do you want, M or L?"
"L," answered my wife while looking at my daughter. "M is too small for her."
Promptly my daughter asked, "Is there also A, B or C size?"